BAB I PENDAHULUAN
Puji-pujian
merupakan salah satu hal yang tidak terlepas dari kehidupan Kekristenan.
Puji-pujian itu kadang diucapkan langsung secara lisan melalui nyanyian atau
bahkan secara tertulis dalam kitab. Salah satu kitab pujian bagi umat Kristen
dan Yahudi adalah kitab Mazmur.
Jemaat-jemaat
Yahudi yang berbahasa Ibrani atau Aram
menyebutnya Mazmur sefer tebilim,
artinya kitab puji-pujian, atau singkatnya tebilim.
Tradisi Yahudi menggolongkan Mazmur dalam kelompok ketubim, artinya kitab-kitab. Dalam Septuaginta kitab Mazmur
disebut psalmoi, artinya:
nyanyian-nyanyian yang biasanya diiringi dengan musik, khususnya kecapi. Dalam bahasa Indonesia disebut Mazmur yang
berasal dari kata Arab, yang artinya tepat sekali dengan Mizmor.[1]
Dari
seluruh kitab Kristen, Mazmur merupakan kitab yang memiliki paling banyak pasal, dalam LAI, kitab Mazmur
terdiri dari 150 Pasal. Untuk membahas semua itu, dibutuhkan waktu yang
panjang. Oleh karena itu, tulisan ini, akan dibatasi hanya untuk mengekspos
salah satu dari Mazmur, yaitu Mazmur 8.
Genre, Latar Belakang Sejarah Teks,
dan Penulisan Mazmur
Mazmur
delapan termasuk jenis madah dan lahir dari kekaguman akan alam semesta.
Kekaguman itu ia nyatakan pada kejadian di malam hari (ay.4). Madah ini dapat
dilihat sebagai suatu nyanyian untuk liturgi malam hari. Nyanyian ini dibuka
dan ditutup dengan suatu refren (ay. 2a, 10). Refren mungkin dinyanyikan oleh
jemaah atau kelompok jemaah (Tuhan kami) namun kata “kami” itu dapat juga ditafsirkan
sebagai pernyataan kesatuan sipemazmur dengan Israel seluruhnya. Jika
diperhatikan dengan jelas, ay. 4-9 merupakan inti nyanyian. Apabila ay. 2a, 10
dinyanyikan jemaah, maka bagian inti (termasuk ay. 2b-3) mungkin dibawakan
solo.[2]
Mengenai
mazmur ini, kapan madah ini digubah dan siapa pengarangnya tidak dapat
dipastikan.[3]
Namun kemungkinan besar adalah Daud.[4]
Dalam teks asli, Mazmur delapan merupakan Mazmur Daud, menurut lagu Gitit.[5] Gitit biasanya dipakai untuk menentukan nada,
atau alat musik yang hendak dipakai untuk mengiringi musik tersebut. Namun,
Daud memakainya terhadap orang Gitit, orang Gat, yaitu Goliat, yang telah
dikalahkan dan dibunuhnya itu (1 Sam. 17).[6]
Struktur Teks, Terjemahan Teks dan
Garis besar
Mazmur
delapan adalah madah sebagaimana pada bagian sebelumnya dinyatakan bahwa mazmur
tersebut dinyanyikan oleh jemaah. Adapun strukturnya yaitu ay. 4-9 merupakan
inti nyanyian. Apabila ay. 2a, 10 dinyanyikan jemaah, maka bagian inti
(termasuk ay. 2b-3) mungkin dibawakan solo.
Menurut
Nancy deClaisse-Walford, dkk, Mazmur ini terdiri dari dua stanza, yaitu:
1. Stanza
Pertama: ay. 1b-4, pada bagian ini berisi pujian atas kemuliaan Allah
2. Stanza
Kedua: ay. 5-8, merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaa sekaligus
menutup stanza pertama.
3. Closing:
Pujian penutup
v.
1b above the heavens
v.
3 heavens... moon and
stars
v.
5a but a little lower than
heavenly beings
v.
6a hands
v.
6b feet
Jika dilihat pada bagian ini, struktur teks
menyatakan Allah yang mulia kepada manusia yang hina dan sampai kepada
binatang-binatang. Ini menggambarkan tingkatan bahwa di antara semua yang ada
hanya Allah yang Agung dan patut dimuliakan.[7]
Pada
bagian selanjutnya, hal yang tidak kalah penting diperhatikan adalah terjemahan
teks dari Mazmur delapan. Teks asli dari naskah Mazmur delapan memiliki
keunikan. Teks Ibrani dari ayat 2b sesungguhnya tidak dapat dimengerti. Secara
harafiah dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Yang berikanlah keagungan-Mu di
(atas) langit.” Ayat 3 berbunyi kurang lebih seperti terjemahan LAI. Namun
apakah arti dari kata-kata tersebut? Isi dari pernyatan ini tidak ada
pararelnya dalam Perjanjian Lama bahkan di naskah tertua sekalipun.
Pada
Septuaginta dan Vulgata terjemahannya adalah: “karena keagungan-Mu
diluhurkan/diangkat di langit.” Berbeda dengan tafsiran LAI, di baris pertama
ay. 3 disejajarkan dengan ayat 2b. Dengan demikian kesulitan yang ada pada ayat
3 dapat dipecahkan. Pendapat-pendapat lain untuk ayat 2 yaitu: “Engkau telah
meletakkan kesemarakan-Mu di langit” (Kraus); “Engkau telah meninggikan
keagungan-Mu di atas langit” (NAB); “Keagunganmu dipuji tinggi seperti langit”
(NEB); “Lebih dari langit, dia (seluruh bumi?) menyanyikan keagunganmu” (TOB).
Frasa,
“telah Kau letakkan dasar kekuatan” adalah terjemahan menurut arti pertama
kata-kata Ibrani yang digunakan. Akan tetapi, karena kata “kekuatan” beberapa
kali diketemukan sejajar dengan “kemuliaan” (bnd. 29:1; 96:7; 1 Taw. 16:28,
68:35; Why. 5:12; 7:12), maka kata tersebut dapat diterjemahkan, “puji-pujian.”
Usul lain untuk terjemahan ayat 3 yang banyak diajukan adalah “.... telah Kau
letakkan suatu kubu (perlindungan) karena lawan-Mu/untuk membungkamkan musuh
dan pendendam.” Kata “kekuatan” diterjemahkan menjadi, “kubu perlindungan,”
karena kata tersebut kerap ditemukan sejajar (28:7-8; 59:10-18; 140:8; Yer.
16:19; 51:53; Am. 3:11).[8]
Meskipun
terjemahan Mazmur ini sulit, namun Mazmur ini dapat dibagi menjadi beberapa
bagian besar yaitu:
1. Intro/pembukaan
Mazmur (ay. 1)
2. Pembukaan
Madah (2a-3)
3. Latar
Belakang Madah (4-9)
4. Penutup
Madah (ay 1.0)
BAB II EKSPOSISI MAZMUR
Sebagaimana
sejatinya madah adalah puji-pujian, Mazmur delapan menceritakan perenungan yang
penuh rasa khidmat dan kekaguman akan kemuliaan dan keagungan Allah yang patut
ditinggikan dan dihormati. Mazmur ini diawali dan diakhiri dengan pengakuan
yang sama akan keunggulan nama Allah yang melebihi segalanya.[9]
Untuk lebih memperjelas apa saja yang dituliskan oleh pemazmur, maka pada
bagian ini akan dibahas secara jelas Mazmur delapan. Mazmur ini akan dibagi
menjadi 4 bagian besar yaitu:
1.
Intro/pembukaan
Mazmur (ay. 1)
Pada ayat dituliskan bahwa Mazmur ini adalah Mazmur
Daud yang merupakan lagu Gitit. Menurut Dr. Harmond (Theolog Inggris abad
ketujuh belas), ayat ini yang menandakan bahwa Mazmur ini adalah sebuah lagu
yang digubah oleh Daud, di mana Gitit yang dimaksud adalah orang Gitit, Goliat,
orang Gat yang telah ia kalahkan dan ia bunuh. Musuh ini diredam oleh Daud,
dimana Goliat diibaratkan sebagai seorang bayi dan anak yang masih menyusu.
Baginya, kesimpulan ini mungkin saja sudah cukup memadai kalau bukan karena dua
Mazmur lain yaitu Mazmur 81 dan 84.[10]
2.
Pembukaan
Madah (2a-3)
Pada bagian ini madah dibuka dengan suatu seruan
pembukaan yang agung dan mulia. Dengan penuh rasa hormat dan penyembahan
Pemazmur dan Israel memanggil Allah mereka sebagai Tuhan (Yahweh= YHWH). Mereka
menyebut Tuhan, Allahnya dengan: “(Engkau) Tuhan kami.” Bahasa asli yang
dipakai adalah אֲדֹנֵ֗ינוּ (Adenu) tanpa kata “kami” bunyinya menjadi Adonay. Kata ini disebutkan sebanyak 439
kali dalam Perjanjian Lama di mana 54 kali ada pada kitab Mazmur.
Kata tersebut sering kali
dipakai sebagai penghormatan orang yang berkedudukan rendah kepada orang yang
berkedudukan tinggi yang artinya, “tuan.” Namun pada teks ini kata tersebut
disanding dengan kata “kami”, sehingga menjadi “Tuhan kami.” Dengan demikian
dalam madah ini, boleh jadi bila kata tersebut mempunyai arti yang lebih dalam
dari pada sekedar gelar kehormatan belaka. Madah ini dijiwai oleh suatu sikap
penyembahan yang mendalam kepada Tuhan yang Agung.
Oleh karena itu sebutan, ”Tuhan
kami” agaknya mengandung arti pengakuan akan Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan,
yakni Tuhan yang mengatasi segala tuan, Tuhan segala sesuatu yang kepada-Nya
patut diberi segala pujian dan penyembahan.[11]
Dalam sejarah Perjanjian Lama,
Israel telah mengenal Allah sebagai Tuhan maka setiap pernyataan diri Allah
adalah penyataan nama ini. Nama ini menunjukkan siapakah Allah. Oleh karena
itu, melihat kebesaran alam semesta ini dan menyadari karya Allah kepada
manusia melampaui pengertian, maka Israel dan Pemazmur berseru memuji Tuhan:
“ya Tuhan, Tuhan kami, betapa dahsyat-Nya nama-Mu di seluruh bumi.” Nama ini
dahsyat karena Ia telah melakukan karya-karya hebat, berkuasa dan menakjubkan.
Uniknya, kedahsyatan nama Tuhan ini tidak hanya terbatas di kalangan Israel
saja tetapi meliputi seluruh bumi, karena Dialah yang menciptakan alam semesta
ini sebagai raja atas buatan tangan-Nya (ay. 4, 7).[12]
Pada ayat 2b-3 merupakan bagian yang sangat sulit
ditafsirkan, sebab bagaimana mungkin bayi dan anak-anak menyusu dapat memuji
Tuhan. Bagaimana mungkin bayi dan anak-anak menyusu dapat memuji Tuhan karena
alam semesta? Mungkin tafsiran Dr. Hammond dapat dipakai pada bagian ini. Namun,
ayat 2b akan terpisah dengan ayat 3a, sehingga ayat 3 adalah satu bagian teks
yang tidak dapat dipisahkan. Maka hal yang dapat ditafsirkan adalah Goliat yang
digambarkan sebagai bayi atau anak-anak menyusu itu. Allah menyatakan
kekuatan-Nya untuk membungkamkan lawan, musuh dan pendendam yaitu Goliat. Semua
ini merupakan contoh yang begitu tepat tentang kebaikan Allah yang
membungkamkan musuh yang tidak mengakui kemuliaan Allah.[13]
Di sisi lain pendapat yang berbeda menyatakan bahwa hal
tersebut dilihat oleh Pemazmur sebagai nyanyian pujian anak-anak kepada
Pencipta. Artinya, kemampuan untuk memuji Tuhan karena segala ciptaan-Nya telah
diletakkan Tuhan dalam hati manusia sejak masih bayi. Kemampuan ini telah
dipersiapkan Tuhan karena lawan-Nya, yakni untuk membungkamkan mereka.
Hal lain yang dapat dilihat adalah pemazmur tidak
menjelaskan siapa musuh yang dimaksud, namun beberapa pendapat mengatakan bahwa
kemungkinan musuh yang dimaksud adalah mereka yang tidak mengakui keagungan
Tuhan.
3.
Latar
Belakang Madah (4-9)
Pada bagian ini akan dibahas titik tolak yang
melahirkan madah yang indah ini. Dalam ayat 4-9, hal utama yang dikagumi oleh
pemazmur adalah langit malam, langit yang diciptakan oleh Tuhan. Jika dilihat
keadaan Palestina, hampir mirip dengan Indonesia, di mana di Palestina langit
sangat jarang ditutupi oleh awan. Melalui keindahan malam, pemazmur memuliakan
Allah. Langit menyatakan keagungan Allah yang meliputi seluruh bumi. Bulan dan
bintang merupakan keindahan langit. Ini
semua adalah ciptaan Tuhan dan bukan untuk disembah. Sang Penciptanyalah yang
harus disembah.
Ketika pemazmur tekagum-kagum dan menyadari semua
keindahan Tuhan ini, ia bertemu dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Dengan
demikian ia menyadari hubungannya dengan Allah, di mana Allah adalah Agung
sementara dirinya, yang adalah manusia, adalah ciptaan yang hina (enosy[14]).[15] Dari
hal ini pemazmur seperti mencoba merefleksikan dirinya bahwa, “apakah manusia
yang hina itu sehingga Allah yang Agung itu mengingatnya dan mengindahkannya?”
Dasarnya adalah karena Allah telah membuatnya hampir sama dengan diri-Nya.
Kata “Allah” yang dipakai pada bagian ini adalah
“elohim.” Di mana kata tersebut memiliki empat arti yakni: (1) allah-allah para
bangsa (2) penghuni sorgawi (3) Allah
(4) yang bersifat ilahi (a divine
being). Dengan membandingkan keseluruhan dan keharmonisan teks, maka elohim yang dimaksud adalah Allah.
Alasannya ada di ayat 6b-9, di mana pemazmur berbicara tentang keluhuran rajawi
manusia atas ciptaan-ciptaan yang lain. Dalam Alkitab tidak ada teologi tentang
keluhuran rajawi para allah atau para penghuni surgawi, yang ada hanya
keluhuran rajawi Allah. Jadi yang dibicarakan dalam ayat 6 ialah manusia dalam
hubungannya dengan Allah seperti yang dikehndaki Allah.
Pada ayat 6 ini terlihat pernyataan yang berani dari
pemazmur. Namun, dapat dilihat bahwa penyataan itu bukan berarti bahwa manusia
sama dengan diri Allah sendiri. Ia menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan
umum untuk “keallahan,” dan mungkin juga untuk mempertahankan kekhasan Tuhan,
Allah Israel.
Pada bagian ini dinyatakan bahwa manusia yang hina
itu dimahkotai oleh Allah dengan kemuliaan dan hormat, sehingga kemuliaan dan
hormat itu tidak berasal dari manusia itu sendiri namun dari keluhuran rajawi
Allah. Dengan perkataan lain, manusia yang hina itu diperhatikan oleh Allah, di
mana Allah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Lantas, apakah keluhuran manusia yang dimaksud oleh
pemazmur? Keluhuran yang dimaksud adalah kekuasaan yang diberikan oleh Allah
kepada manusia atas segala ciptaan yang
ada di dunia. Di tengah-tengah keluhuran itu, ada hal yang unik yang dapat
dilihat, di mana ciptaan-ciptaan yang berada di bawah kuasa manusia itu adalah
binatang. Hal ini mengingatkan pembaca pada Kejadian 1:26, 28, di mana manusia
pertama diperintahkan Allah untuk menaklukannya. Bukan hanya itu, ternak yang
disebutkan juga adalah ternak yang digunakan di zaman itu sesuai dengan keadaan
di Palestina.
4.
Penutup
Madah (ay 1.0)
Puncak dari Mazmur ini adalah pemazmur memuji
kembali Allah, Sang Pencipta itu. Ia mengagumi karya Tuhan yang dahsyat dan
agung atas manusia yang lemah dan hina.[16]
Pada bagian ini dengan jelas dan tegas dinyatakan bahwa bukan manusia dan
ciptaan lain yang disembah dan dipuji-puji tetapi hanya Allah saja yang layak
disembah dan dipuji-puji. Hanya Allah saja yang layak dimuliakan.
BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan
Pertama,
Mazmur delapan mengajarkan bahwa hanya Allah saja yang layak dipuji dan
dimuliakan. Manusia dan seluruh ciptaan lainnya tidak untuk disembah, hanya
Allah yang harus disembah karena Dialah Pencipta. Kedua, Manusia harus
menyadari bahwa ia adalah hina, namun Allah telah memberikan padanya kuasa. Itu
semua karena anugerah bukan karena keluhuran manusia itu sendiri. Ketiga,
manusia yang mengenal Allah memiliki keharusan untuk menyembah dan memuji Allah
dalam kehidupannya.
Aplikasi
Mazmur
delapan ini mengajarkan banyak hal bagi pembaca:
1. Kita
diingatkan bahwa Allah itu mulia, agung, hebat dan dahsyat. Tidak ada Allah
yang dapat membandingi kemuliaan Allah kita, baik itu manusia, ciptaan lain
bahkan musuh. Oleh karena itu, banggalah memiliki Allah seperti Dia.
2. Kita
diajarkan untuk menyembah Allah saja, bukan kepada ciptaan Allah seperti
binatang, pohon, laut, bintang, manusia dan lain-lain. Penyembahan dan pujian
itu mutlak hanya milik Allah. Maka kita tidak boleh menyembah ciptaan Allah dan
yang lain-lain, hanya Allah saja yang harus kita sembah. Pada Mazmur ini
dikatakan bahwa siapa yang tidak menyembah dan mengakui keagungan Allah adalah
musuh Allah (ay. 3). Jadi, jika kita tidak ingin menjadi musuh Allah, akuilah kemuliaan-Nya
dan sembahlah Dia saja.
3. Kita
menyadari bahwa manusia adalah ciptaan yang lemah dan hina. Maka, jangan
menyombongkan diri. Segala keluhuran, kuasa, talenta, harta bahkan segala
sesuatu yang kita miliki, semua itu dari Allah. Oleh karena itu, janganlah
menyombongkan diri. Jangan mencari puji-pujian yang sia-sia untuk diri sendiri.
Baiklah kiranya segala yang kita miliki kita persembahkan untuk Tuhan, untuk
kemuliaan nama-Nya. Ingat, semua yang kita miliki itu adalah anugerah Allah,
karena Allahlah yang berkenan memberikannya.
4. Sikap
menyembah wajib kita lakukan untuk Allah. Alasannya, sejak bayi Allah sudah
menanamkan kepada kita sikap untuk kagum kepada Allah. Oleh karena itu, tidak
ada alasan untuk tidak menyembah Allah, maka selagi kita hidup, selagi kita
bernafas, marilah kita memuji Tuhan. Bukan hanya itu, penyembahan terhadap
Allah juga tidak dibatasi oleh umur, bagi kita yang telah memiliki keturunan,
mari kita ajarkan anak, cucu kita untuk menyembah Allah yang benar itu.
DAFTAR PUSTAKA
Barth,
Marie-Claire, dkk.
2010. Kitab
Mazmur 1-72 . Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Henry,
Matthew.
2011. Kitab Mazmur 1-50. Surabaya: Momentum.
Walford,
Nancy deClaisse, dkk.
2014. The Book of Psalms. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans
Publishing Company.
[1] Marie-Claire Barth, dkk, Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2010), 20.
[2] Ibid, 170.
[3] Ibid.
[4] Matthew Henry, Kitab Mazmur 1-50 (Surabaya: Momentum,
2011), 105.
[7] Nancy deClaisse-Walford, dkk, The Book of Psalms (Grand Rapids,
Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2014), 120-127.
[9] Henry, opcit., 105.
[10] Henry, ibid, 106.
[11] Clarie, op.cit., 171.
[12] Ibid.
[13] Ibid, 108.
[14] Enosy adalah insan yang dijumpai
terutama dalam puisi dan pada umumnya menunjukkan manusia dalam kelemahan dan
kehinaannya.
[15] Ibid. 172.
[16] Ibid, 174.