Kamis, 07 Juni 2018

Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mazmur. 8)


BAB I PENDAHULUAN

Puji-pujian merupakan salah satu hal yang tidak terlepas dari kehidupan Kekristenan. Puji-pujian itu kadang diucapkan langsung secara lisan melalui nyanyian atau bahkan secara tertulis dalam kitab. Salah satu kitab pujian bagi umat Kristen dan Yahudi adalah kitab Mazmur.
Jemaat-jemaat Yahudi  yang berbahasa Ibrani atau Aram menyebutnya Mazmur sefer tebilim, artinya kitab puji-pujian, atau singkatnya tebilim. Tradisi Yahudi menggolongkan Mazmur dalam kelompok ketubim, artinya kitab-kitab. Dalam Septuaginta kitab Mazmur disebut psalmoi, artinya: nyanyian-nyanyian yang biasanya diiringi dengan musik, khususnya kecapi.  Dalam bahasa Indonesia disebut Mazmur yang berasal dari kata Arab, yang artinya tepat sekali dengan Mizmor.[1]
Dari seluruh kitab Kristen, Mazmur merupakan kitab yang memiliki  paling banyak pasal, dalam LAI, kitab Mazmur terdiri dari 150 Pasal. Untuk membahas semua itu, dibutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena itu, tulisan ini, akan dibatasi hanya untuk mengekspos salah satu dari Mazmur, yaitu Mazmur 8.

Genre, Latar Belakang Sejarah Teks, dan Penulisan Mazmur
Mazmur delapan termasuk jenis madah dan lahir dari kekaguman akan alam semesta. Kekaguman itu ia nyatakan pada kejadian di malam hari (ay.4). Madah ini dapat dilihat sebagai suatu nyanyian untuk liturgi malam hari. Nyanyian ini dibuka dan ditutup dengan suatu refren (ay. 2a, 10). Refren mungkin dinyanyikan oleh jemaah atau kelompok jemaah (Tuhan kami) namun kata “kami” itu dapat juga ditafsirkan sebagai pernyataan kesatuan sipemazmur dengan Israel seluruhnya. Jika diperhatikan dengan jelas, ay. 4-9 merupakan inti nyanyian. Apabila ay. 2a, 10 dinyanyikan jemaah, maka bagian inti (termasuk ay. 2b-3) mungkin dibawakan solo.[2]
Mengenai mazmur ini, kapan madah ini digubah dan siapa pengarangnya tidak dapat dipastikan.[3] Namun kemungkinan besar adalah Daud.[4] Dalam teks asli, Mazmur delapan merupakan Mazmur  Daud, menurut lagu Gitit.[5]  Gitit biasanya dipakai untuk menentukan nada, atau alat musik yang hendak dipakai untuk mengiringi musik tersebut. Namun, Daud memakainya terhadap orang Gitit, orang Gat, yaitu Goliat, yang telah dikalahkan dan dibunuhnya itu (1 Sam. 17).[6]

Struktur Teks, Terjemahan Teks dan Garis besar
Mazmur delapan adalah madah sebagaimana pada bagian sebelumnya dinyatakan bahwa mazmur tersebut dinyanyikan oleh jemaah. Adapun strukturnya yaitu ay. 4-9 merupakan inti nyanyian. Apabila ay. 2a, 10 dinyanyikan jemaah, maka bagian inti (termasuk ay. 2b-3) mungkin dibawakan solo.
Menurut Nancy deClaisse-Walford, dkk, Mazmur ini terdiri dari dua stanza, yaitu:
1.      Stanza Pertama: ay. 1b-4, pada bagian ini berisi pujian atas kemuliaan Allah
2.      Stanza Kedua: ay. 5-8, merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaa sekaligus menutup  stanza pertama.
3.      Closing: Pujian penutup

v. 1b                above the heavens
 


v. 3                  heavens... moon and stars
 


v. 5a                but a little lower than heavenly beings
 


v. 5b                crowned them (reference to the head)


v. 6a                hands
 


v. 6b                feet

sheep and oxen           beasts of the field         birds  fish        whatever passes the paths of the seas.

Jika  dilihat pada bagian ini, struktur teks menyatakan Allah yang mulia kepada manusia yang hina dan sampai kepada binatang-binatang. Ini menggambarkan tingkatan bahwa di antara semua yang ada hanya Allah yang Agung dan patut dimuliakan.[7]
Pada bagian selanjutnya, hal yang tidak kalah penting diperhatikan adalah terjemahan teks dari Mazmur delapan. Teks asli dari naskah Mazmur delapan memiliki keunikan. Teks Ibrani dari ayat 2b sesungguhnya tidak dapat dimengerti. Secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Yang berikanlah keagungan-Mu di (atas) langit.” Ayat 3 berbunyi kurang lebih seperti terjemahan LAI. Namun apakah arti dari kata-kata tersebut? Isi dari pernyatan ini tidak ada pararelnya dalam Perjanjian Lama bahkan di naskah tertua sekalipun.
Pada Septuaginta dan Vulgata terjemahannya adalah: “karena keagungan-Mu diluhurkan/diangkat di langit.” Berbeda dengan tafsiran LAI, di baris pertama ay. 3 disejajarkan dengan ayat 2b. Dengan demikian kesulitan yang ada pada ayat 3 dapat dipecahkan. Pendapat-pendapat lain untuk ayat 2 yaitu: “Engkau telah meletakkan kesemarakan-Mu di langit” (Kraus); “Engkau telah meninggikan keagungan-Mu di atas langit” (NAB); “Keagunganmu dipuji tinggi seperti langit” (NEB); “Lebih dari langit, dia (seluruh bumi?) menyanyikan keagunganmu” (TOB).
Frasa, “telah Kau letakkan dasar kekuatan” adalah terjemahan menurut arti pertama kata-kata Ibrani yang digunakan. Akan tetapi, karena kata “kekuatan” beberapa kali diketemukan sejajar dengan “kemuliaan” (bnd. 29:1; 96:7; 1 Taw. 16:28, 68:35; Why. 5:12; 7:12), maka kata tersebut dapat diterjemahkan, “puji-pujian.” Usul lain untuk terjemahan ayat 3 yang banyak diajukan adalah “.... telah Kau letakkan suatu kubu (perlindungan) karena lawan-Mu/untuk membungkamkan musuh dan pendendam.” Kata “kekuatan” diterjemahkan menjadi, “kubu perlindungan,” karena kata tersebut kerap ditemukan sejajar (28:7-8; 59:10-18; 140:8; Yer. 16:19; 51:53; Am. 3:11).[8]
Meskipun terjemahan Mazmur ini sulit, namun Mazmur ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian besar yaitu:
1.      Intro/pembukaan Mazmur (ay. 1)
2.      Pembukaan Madah (2a-3)
3.      Latar Belakang Madah (4-9)
4.      Penutup Madah (ay 1.0)



BAB II EKSPOSISI MAZMUR
Sebagaimana sejatinya madah adalah puji-pujian, Mazmur delapan menceritakan perenungan yang penuh rasa khidmat dan kekaguman akan kemuliaan dan keagungan Allah yang patut ditinggikan dan dihormati. Mazmur ini diawali dan diakhiri dengan pengakuan yang sama akan keunggulan nama Allah yang melebihi segalanya.[9] Untuk lebih memperjelas apa saja yang dituliskan oleh pemazmur, maka pada bagian ini akan dibahas secara jelas Mazmur delapan. Mazmur ini akan dibagi menjadi 4 bagian besar yaitu:

1.      Intro/pembukaan Mazmur (ay. 1)
Pada ayat dituliskan bahwa Mazmur ini adalah Mazmur Daud yang merupakan lagu Gitit. Menurut Dr. Harmond (Theolog Inggris abad ketujuh belas), ayat ini yang menandakan bahwa Mazmur ini adalah sebuah lagu yang digubah oleh Daud, di mana Gitit yang dimaksud adalah orang Gitit, Goliat, orang Gat yang telah ia kalahkan dan ia bunuh. Musuh ini diredam oleh Daud, dimana Goliat diibaratkan sebagai seorang bayi dan anak yang masih menyusu. Baginya, kesimpulan ini mungkin saja sudah cukup memadai kalau bukan karena dua Mazmur lain yaitu Mazmur 81 dan 84.[10]

2.      Pembukaan Madah (2a-3)
Pada bagian ini madah dibuka dengan suatu seruan pembukaan yang agung dan mulia. Dengan penuh rasa hormat dan penyembahan Pemazmur dan Israel memanggil Allah mereka sebagai Tuhan (Yahweh= YHWH). Mereka menyebut Tuhan, Allahnya dengan: “(Engkau) Tuhan kami.” Bahasa asli yang dipakai adalah אֲדֹנֵ֗ינוּ  (Adenu) tanpa kata “kami” bunyinya menjadi Adonay. Kata ini disebutkan sebanyak 439 kali dalam Perjanjian Lama di mana 54 kali ada pada kitab Mazmur.
Kata tersebut sering kali dipakai sebagai penghormatan orang yang berkedudukan rendah kepada orang yang berkedudukan tinggi yang artinya, “tuan.” Namun pada teks ini kata tersebut disanding dengan kata “kami”, sehingga menjadi “Tuhan kami.” Dengan demikian dalam madah ini, boleh jadi bila kata tersebut mempunyai arti yang lebih dalam dari pada sekedar gelar kehormatan belaka. Madah ini dijiwai oleh suatu sikap penyembahan yang mendalam kepada Tuhan yang Agung.
Oleh karena itu sebutan, ”Tuhan kami” agaknya mengandung arti pengakuan akan Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan, yakni Tuhan yang mengatasi segala tuan, Tuhan segala sesuatu yang kepada-Nya patut diberi segala pujian dan penyembahan.[11]
Dalam sejarah Perjanjian Lama, Israel telah mengenal Allah sebagai Tuhan maka setiap pernyataan diri Allah adalah penyataan nama ini. Nama ini menunjukkan siapakah Allah. Oleh karena itu, melihat kebesaran alam semesta ini dan menyadari karya Allah kepada manusia melampaui pengertian, maka Israel dan Pemazmur berseru memuji Tuhan: “ya Tuhan, Tuhan kami, betapa dahsyat-Nya nama-Mu di seluruh bumi.” Nama ini dahsyat karena Ia telah melakukan karya-karya hebat, berkuasa dan menakjubkan. Uniknya, kedahsyatan nama Tuhan ini tidak hanya terbatas di kalangan Israel saja tetapi meliputi seluruh bumi, karena Dialah yang menciptakan alam semesta ini sebagai raja atas buatan tangan-Nya (ay. 4, 7).[12]

Pada ayat 2b-3 merupakan bagian yang sangat sulit ditafsirkan, sebab bagaimana mungkin bayi dan anak-anak menyusu dapat memuji Tuhan. Bagaimana mungkin bayi dan anak-anak menyusu dapat memuji Tuhan karena alam semesta? Mungkin tafsiran Dr. Hammond dapat dipakai pada bagian ini. Namun, ayat 2b akan terpisah dengan ayat 3a, sehingga ayat 3 adalah satu bagian teks yang tidak dapat dipisahkan. Maka hal yang dapat ditafsirkan adalah Goliat yang digambarkan sebagai bayi atau anak-anak menyusu itu. Allah menyatakan kekuatan-Nya untuk membungkamkan lawan, musuh dan pendendam yaitu Goliat. Semua ini merupakan contoh yang begitu tepat tentang kebaikan Allah yang membungkamkan musuh yang tidak mengakui kemuliaan Allah.[13]
Di sisi lain pendapat yang berbeda menyatakan bahwa hal tersebut dilihat oleh Pemazmur sebagai nyanyian pujian anak-anak kepada Pencipta. Artinya, kemampuan untuk memuji Tuhan karena segala ciptaan-Nya telah diletakkan Tuhan dalam hati manusia sejak masih bayi. Kemampuan ini telah dipersiapkan Tuhan karena lawan-Nya, yakni untuk membungkamkan mereka.
Hal lain yang dapat dilihat adalah pemazmur tidak menjelaskan siapa musuh yang dimaksud, namun beberapa pendapat mengatakan bahwa kemungkinan musuh yang dimaksud adalah mereka yang tidak mengakui keagungan Tuhan.

3.      Latar Belakang Madah (4-9)
Pada bagian ini akan dibahas titik tolak yang melahirkan madah yang indah ini. Dalam ayat 4-9, hal utama yang dikagumi oleh pemazmur adalah langit malam, langit yang diciptakan oleh Tuhan. Jika dilihat keadaan Palestina, hampir mirip dengan Indonesia, di mana di Palestina langit sangat jarang ditutupi oleh awan. Melalui keindahan malam, pemazmur memuliakan Allah. Langit menyatakan keagungan Allah yang meliputi seluruh bumi. Bulan dan bintang  merupakan keindahan langit. Ini semua adalah ciptaan Tuhan dan bukan untuk disembah. Sang Penciptanyalah yang harus disembah.
Ketika pemazmur tekagum-kagum dan menyadari semua keindahan Tuhan ini, ia bertemu dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Dengan demikian ia menyadari hubungannya dengan Allah, di mana Allah adalah Agung sementara dirinya, yang adalah manusia, adalah ciptaan yang hina (enosy[14]).[15] Dari hal ini pemazmur seperti mencoba merefleksikan dirinya bahwa, “apakah manusia yang hina itu sehingga Allah yang Agung itu mengingatnya dan mengindahkannya?” Dasarnya adalah karena Allah telah membuatnya hampir sama dengan diri-Nya.
Kata “Allah” yang dipakai pada bagian ini adalah “elohim.” Di mana kata tersebut memiliki empat arti yakni: (1) allah-allah para bangsa (2) penghuni sorgawi (3) Allah  (4) yang bersifat ilahi (a divine being). Dengan membandingkan keseluruhan dan keharmonisan teks, maka elohim yang dimaksud adalah Allah. Alasannya ada di ayat 6b-9, di mana pemazmur berbicara tentang keluhuran rajawi manusia atas ciptaan-ciptaan yang lain. Dalam Alkitab tidak ada teologi tentang keluhuran rajawi para allah atau para penghuni surgawi, yang ada hanya keluhuran rajawi Allah. Jadi yang dibicarakan dalam ayat 6 ialah manusia dalam hubungannya dengan Allah seperti yang dikehndaki Allah.
Pada ayat 6 ini terlihat pernyataan yang berani dari pemazmur. Namun, dapat dilihat bahwa penyataan itu bukan berarti bahwa manusia sama dengan diri Allah sendiri. Ia menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan umum untuk “keallahan,” dan mungkin juga untuk mempertahankan kekhasan Tuhan, Allah Israel.
Pada bagian ini dinyatakan bahwa manusia yang hina itu dimahkotai oleh Allah dengan kemuliaan dan hormat, sehingga kemuliaan dan hormat itu tidak berasal dari manusia itu sendiri namun dari keluhuran rajawi Allah. Dengan perkataan lain, manusia yang hina itu diperhatikan oleh Allah, di mana Allah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Lantas, apakah keluhuran manusia yang dimaksud oleh pemazmur? Keluhuran yang dimaksud adalah kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia atas segala ciptaan  yang ada di dunia. Di tengah-tengah keluhuran itu, ada hal yang unik yang dapat dilihat, di mana ciptaan-ciptaan yang berada di bawah kuasa manusia itu adalah binatang. Hal ini mengingatkan pembaca pada Kejadian 1:26, 28, di mana manusia pertama diperintahkan Allah untuk menaklukannya. Bukan hanya itu, ternak yang disebutkan juga adalah ternak yang digunakan di zaman itu sesuai dengan keadaan di Palestina. 

4.      Penutup Madah (ay 1.0)
Puncak dari Mazmur ini adalah pemazmur memuji kembali Allah, Sang Pencipta itu. Ia mengagumi karya Tuhan yang dahsyat dan agung atas manusia yang lemah dan hina.[16] Pada bagian ini dengan jelas dan tegas dinyatakan bahwa bukan manusia dan ciptaan lain yang disembah dan dipuji-puji tetapi hanya Allah saja yang layak disembah dan dipuji-puji. Hanya Allah saja yang layak dimuliakan.

  

BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan
Pertama, Mazmur delapan mengajarkan bahwa hanya Allah saja yang layak dipuji dan dimuliakan. Manusia dan seluruh ciptaan lainnya tidak untuk disembah, hanya Allah yang harus disembah karena Dialah Pencipta. Kedua, Manusia harus menyadari bahwa ia adalah hina, namun Allah telah memberikan padanya kuasa. Itu semua karena anugerah bukan karena keluhuran manusia itu sendiri. Ketiga, manusia yang mengenal Allah memiliki keharusan untuk menyembah dan memuji Allah dalam kehidupannya.

Aplikasi
Mazmur delapan ini mengajarkan banyak hal bagi pembaca:
1.      Kita diingatkan bahwa Allah itu mulia, agung, hebat dan dahsyat. Tidak ada Allah yang dapat membandingi kemuliaan Allah kita, baik itu manusia, ciptaan lain bahkan musuh. Oleh karena itu, banggalah memiliki Allah seperti Dia.
2.      Kita diajarkan untuk menyembah Allah saja, bukan kepada ciptaan Allah seperti binatang, pohon, laut, bintang, manusia dan lain-lain. Penyembahan dan pujian itu mutlak hanya milik Allah. Maka kita tidak boleh menyembah ciptaan Allah dan yang lain-lain, hanya Allah saja yang harus kita sembah. Pada Mazmur ini dikatakan bahwa siapa yang tidak menyembah dan mengakui keagungan Allah adalah musuh Allah (ay. 3). Jadi, jika kita tidak ingin menjadi musuh Allah, akuilah kemuliaan-Nya dan sembahlah Dia saja.
3.      Kita menyadari bahwa manusia adalah ciptaan yang lemah dan hina. Maka, jangan menyombongkan diri. Segala keluhuran, kuasa, talenta, harta bahkan segala sesuatu yang kita miliki, semua itu dari Allah. Oleh karena itu, janganlah menyombongkan diri. Jangan mencari puji-pujian yang sia-sia untuk diri sendiri. Baiklah kiranya segala yang kita miliki kita persembahkan untuk Tuhan, untuk kemuliaan nama-Nya. Ingat, semua yang kita miliki itu adalah anugerah Allah, karena Allahlah yang berkenan memberikannya.
4.      Sikap menyembah wajib kita lakukan untuk Allah. Alasannya, sejak bayi Allah sudah menanamkan kepada kita sikap untuk kagum kepada Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menyembah Allah, maka selagi kita hidup, selagi kita bernafas, marilah kita memuji Tuhan. Bukan hanya itu, penyembahan terhadap Allah juga tidak dibatasi oleh umur, bagi kita yang telah memiliki keturunan, mari kita ajarkan anak, cucu kita untuk menyembah Allah yang benar itu.





















DAFTAR PUSTAKA

Barth, Marie-Claire, dkk.
2010.  Kitab Mazmur 1-72 . Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Henry, Matthew.
2011. Kitab Mazmur 1-50. Surabaya: Momentum.

Walford, Nancy deClaisse, dkk.
2014. The Book of Psalms. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company.





[1] Marie-Claire Barth, dkk, Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 20.
[2] Ibid, 170.
[3] Ibid.
[4] Matthew Henry, Kitab Mazmur 1-50 (Surabaya: Momentum, 2011), 105.
[5] Nats asli: לַמְנַצֵּ֥חַ עַֽל־הַגִּתִּ֗ית מִזְמ֥וֹר לְדָוִֽד׃ .
[6] Henry, op. cit.
[7] Nancy deClaisse-Walford, dkk, The Book of Psalms (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2014), 120-127.
[8] Claire, op.cit.,
[9] Henry, opcit., 105.
[10] Henry, ibid, 106.
[11] Clarie, op.cit., 171.
[12] Ibid.
[13] Ibid, 108.
[14] Enosy adalah insan yang dijumpai terutama dalam puisi dan pada umumnya menunjukkan manusia dalam kelemahan dan kehinaannya.
[15] Ibid. 172.
[16] Ibid, 174.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mazmur. 8)

BAB I PENDAHULUAN Puji-pujian merupakan salah satu hal yang tidak terlepas dari kehidupan Kekristenan. Puji-pujian itu kadang diucapka...

Mazmur 8